ukti kebenaran al-quan

oleh : Mattaul Ada
Demikianlah mengenai berita-berita gaib tersebut, yang merupakan pertanda bahwa Al-Qur’an memang merupakan firman Tuhan, bukan merupakan hasil pemikiran Nabi Muhammad, sehingga isinya tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Allah SWT berfirman :

Artinya :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى

[53:1] Demi bintang ketika terbenam.
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى
[53:2] kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى
[53:3] dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya.
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
[53:4] Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى
[53:5] yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat.
ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى
[53:6] yang mempunyai akal yang cerdas; dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
Kalau kita mau berpikir secara logis, kitab suci Al-Qur’an tidak mungkin merupakan rekayasa Nabi Muhammad belaka. Mengapa? Karena Nabi Muhammad adalah seorang yang buta huruf. Ini dapat diketahui sewaktu ia disuruh malaikat Jibril untuk membaca wahyu pertama yang diturunkan Allah kepadanya, yaitu Surah Al-Alaq [96]. Jibril berkata : Iqra’, Iqra’ (‘Bacalah, bacalah, bacalah !!’) sampai 3x (tiga kali). Dan beberapa kali kali pula Nabi Muhammad menjawab : “Maa-ana- beqaa-Ri’in” (‘Saya tidak dapat membaca !!’). Dalam QS. Al-‘Ankabuut [29] ayat 48 dikatakan :
وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذاً لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
[29:48] Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).
Dalam QS Al-Ankabuut ayat 48 diatas, Allah sedang memberi penjelasan kepada kita, bahwa jika Muhammad seorang yang terpelajar, dan bila ia dapat membaca dan menulis, maka tentulah isi Al-Qur’an semakin diragukan kebenarannya sebagai firman Tuhan oleh orang-orang kafir.
Kebutahurufan Nabi Muhammad sekaligus semakin menguatkan pernyataan tentang kedatangan seorang Nabi yang akan menuntun seluruh umat manusia ke dalam jalan ‘terang benderang’ dari kesesatan nyata seperti yang tertuang dalam AlKitab sbb : “dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini”, maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (Kitab Yesaya 29:12). Selain itu, dalam Injil – Yohanes 16:13 dikatakan “… sebab Ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri; tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya…”
Keraguan orang non muslim terhadap Al-Qur’an ini sendiri dipertanyakan oleh Allah SWT yang tertuang dalam QS. As-Sajdah [32] ayat 2 dan 3 serta Al-Baqarah [2] ayat 91.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
[2:91] Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”
تَنزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
[32:2] Turunnya Al-Quraan yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْماً مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
[32:3] Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” Sebenarnya Al-Quraan itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.
Sebenarnya kalau kita mau realistis, kita dapat melihat bahwa Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang unik dan menakjubkan yang menjadikan pengubahan terhadap tata bahasa Al-Qur’an merupakan suatu upaya yang sia-sia. Semua penerjemah yang jujur mengakui hakikat ini. Edward Montet menulis dalam Transduction Francais berkata :
“Keagungan serta kemuliaan bentuk Al-Qur’an begitu padat sehingga tidak ada terjemahan ke dalam satu bahasa manapun yang bisa menggantikannya. Bahkan seorang pendeta Kristen mengakui bahwa Al-Qur’an dalam bahasa Arabnya mempunyai keindahan yang menawan serta daya pesona tersendiri. Ungkapan katanya yang ringkas, gayanya yang mulia, kalimat-kalimatnya yang benar sering kali penuh dengan irama. Al-Qur’an memiliki suatu kekuatan yang besar serta tenaga yang meledak-ledak yang sangat sulit diterjemahkan seni sastranya.”
Dalam bukunya “Mukjizat Al-Qur’an”, Bapak Quraisy Shihab mengatakan bahwa Al-Qur’an walaupun menggunakan kosa kata yang digunakan oleh masyarakat Arab yang ditemui-nya ketika ayat-ayatnya turun, tidak jarang Al-Qur’an mengubah pengertian semantik dari kata-kata yang digunakan orang-orang Arab itu. Semantik adalah ilmu tentang tata makna atau pengetahuan tentang seluk beluk dan pergeseran makna kata-kata. Setiap kata merupakan wadah dari makna-makna yang diletakkan oleh pengguna kata itu. Boleh jadi ada satu kata yang sama, dan digunakan oleh dua bangsa, suku, atau kelompok tertentu tetapi makna kata itu bagi masing-masing berbeda. Sebagai contoh, kata fitnah misalnya dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘ucapan yang menjelekkan pihak lain’. Tetapi kata itu dalam bahasa Arab berarti ‘cobaan’ atau ‘ujian’.
Makna-makna semantik yang dikandung oleh Al-Qur’an ini yang menjadi salah satu alasan banyak ulama dunia menolak penerjemahan Al-Qur’an langsung ke dalam bahasa lain (tanpa mengikutsertakan teks aslinya); atau paling tidak menamai terjemahannya sebagai ‘terjemahan makna’ bukan ‘redaksi’. Dari sini pula dapat dimengerti jika terjemahan Al-Qur’an kadang tidak sama persis dengan isi Al-Qur’an yang sebenarnya apalagi menggantikan posisinya.
Itulah sedikit ciri bahasa Arab yang tidak mustahil menjadi sebab dipilihnya bahasa ini untuk menjadi bahasa Al-Qur’an. Bukankah sangat sulit menjelaskan pesan yang diinginkan apabila yang menyampaikan miskin perbendaharaan bahasa dan atau bahasa yang digunakan tidak memiliki kekayaan kosa kata serta keragaman gaya ?
Hal ini pernah juga disampaikan oleh Ahmed Deedat dalam bukunya, The Choice. Ia mengatakan bahwa bahasa Arab sangat kaya akan berbagai pikiran dan konsep spritual, sedangkan bahasa Inggris lebih kaya dalam bidang iptek, tetapi bahasa Inggris ini mengecewakan saya. Sepertinya tidak ada kata kerja untuk menggambarkan usaha yang belum selesai. Salah salah satu contohnya, Kamus Oxford yang terkenal di seluruh dunia mendefini-sikan menyalib sebagai membunuh dengan cara mengikat pada sebuah salib. Orang-orang Filipina seperti yang telah disebutkan sebelumnya tidak melakukan penyaliban, tetapi mereka dianggap telah disalib. Tidak ada pertunjukan seperti yang mereka lakukan di film. Ini adalah kejadian nyata dan hanya ‘kematian’ sesaat. Oleh karenanya, setiap pertunjukan dengan salib, dimana korban mencoba untuk menyamai apa yang dialami Yesus tetapi tidak benar-benar meninggal di kayu salib, kita bisa menyebutnya dalam terminologi yang tepat :
Crucifict sebagai pengganti Crucify (verb [kata kerja]);
Crucificted sebagai pengganti Crucificed (verb [kata kerja]);
Crucifiction sebagai pengganti Crucifixion (noun [kata benda]).
Jika Anda mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hal pertama yang terasa di telinga adalah nada dan langgamnya. Ayat-ayat Al-Qur’an walaupun sebagaimana ditegaskan-Nya bukan syair atau puisi, terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya.
Cendekiawan Inggris, Marmaduke Pickthall dalam The Meaning of Glorious Qur’an, menulis: “Al-Qur’an mempunyai simfoni yang tidak ada taranya dimana setiap nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Bacalah misalnya Surah An-Naazi’aat [79] ayat 1-14 berikut ini :
Wannaaziaati gharqaa(1); Wannaasyithaati nasythaa(2); Wassaabihaati sabhaa(3); Fassaabiqaati sabqaa(4); Fal mudabbiraati amra (5)
Kemudian begitu pendengaran mulai terbiasa dengan nada dan langgam ini, Al-Qur’an mengubah nada dan langgamnya. Bacalah lanjutan ayat-ayat tersebut :
Yauma tarjufurraajifah(6); Tatbauhar raadifah(7); Quluubuy yaumaidziw waajifah(8); Abshaa ruhaa khaasyi’ah(9); Yaquuluuna ainnaa lamarduuduuna fil haafirah(10); Aidzaa kunnaa izhaaman nakhirah ?(11); Qaaluu tilka idzan karratun khaasirah(12); Fainnamaa hiya zajratuuw waahidah(13); Faidzaahum bissaahirah (14)
Setelah itu dilanjutkannya dengan mengubah nada dan langgamnya hingga surah ini berakhir.
Tidak mudah menyusun kalimat singkat tetapi sarat makna, karena pesan yang banyak apabila Anda tak pandai memilih kata dan menyusunnya memerlukan kata yang banyak pula. Nah, Al-Qur’an memiliki keistimewaan bahwa kata dan kalimat-kalimatnya yang singkat dapat menampung sekian banyak makna. Bapak Quraisy Shihab menganalogikan hal ini bagaikan berlian yang memancarkan cahaya dari setiap sisinya.
Sebagai contoh, beliau mengambil satu ayat singkat, yaitu firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 212 berikut ini :
Wallaahu yarzuqu mayyasyaa’u bighayri hisaab
Ayat ini bisa berarti :
a. Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang berhak menanyakan kepada-Nya mengapa Dia memperluas rezeki kepada seseorang dan mempersempit yang lain;
b. Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa memperhitung-kan pemberian itu (karena Dia Maha Kaya, sama dengan seseorang yang tidak mem-perdulikan pengeluarannya);
c. Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang diberi rezeki tersebut dapat menduga kehadiran rezeki itu;
d. Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang bersangkutan dihitung secara detail amal-amalnya;
e. Allah memberikan rezeki kepada seseorang dengan jumlah rezeki yang amat banyak, sehingga yang bersangkutan tidak mampu menghitungnya.
Pengertian (a) menjelaskan perolehan rezeki yang pada dasarnya adalah karena anugerah Ilahi.
Pengertian (b) menggarisbawahi betapa luas kekayaan Allah SWT.
Pengertian (c) mengisyaratkan bahwa ada orang-orang yang dianugerahi oleh Allah rezeki dari sumber yang dia tidak duga sebelumnya.
Pengertian (d) mengisyaratkan bahwa ada orang-orang mukmin yang dimasukkan Allah ke surga, tanpa Allah melakukan perhitungan mendetail tentang amal-amalnya.
Pengertian (e) mengandung arti bahwa Allah melipatgandakan ganjaran seseorang, dengan pelipatgandaan yang tidak dapat dihitung.
Selain itu, yang menakjubkan, Al-Qur’an ternyata mempunyai keseimbangan redaksi. Dalam QS. Asy-Syuura [42] ayat 17 dinyatakan :
اللَّهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ
[42:17] Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ?
Apa yang telah dikatakan oleh ayat tadi bukanlah omong kosong belaka. Rasyad Khalifah telah membuktikan kebenaran ayat ini.
Ia memulainya dengan mengulas kata basmalah (bismillaahirrahmaanirraahiim) yang terdiri dari 19 huruf. Selanjutnya dikatakan bahwa jumlah bilangan kata-kata basmalah yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut walaupun berbeda-beda, keseluruhannya habis terbagi oleh angka 19. Perinciannya adalah sbb :
1. ism dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali;
2. Allah sebanyak 2698 kali yang merupakan perkalian 142 x 19;
3. Ar-Rahman sebanyak 57 = 3 x 19;
4. Ar-Rahim sebanyak 114 = 6 x 19.
Dari sini kemudian ia beralih pada keseimbangan-keseimbangan yang lain.
Abdurrazaq Naufal dalam bukunya Al-Ijaz Al-Adad Al-Qur’an Al-Karim (Kemukjizatan dari Segi Bilangan dalam Al-Qur’an) yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tsb. Bapak Quraisy Shihab menyimpulkannya secara sangat ringkas sbb :
a. Keseimbangan Jumlah Kata-Kata Antonimya
Misalnya :
1. Al-hayah (kehidupan) dan Al-maut (kematian) masing-masing sebanyak 145 kali.
2. An-naf (manfaat) dan Al-fasad (kerusakan/mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali.
3. Akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunia.
4. Malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan.
5. Al-harr (panas) dan Al-bard (dingin) masing-masing 4 kali.
6. Ash-shalihat (kebajikan) dan As-sayyiat (keburukan) masing-masing 167 kali.
7. Ath-thuma’ninah (kelapangan atau ketenangan) dan Adh-dhiq (kesempitan atau kekesalan atau kecemasan) masing-masing 13 kali.
8. Ar-rahbah (cemas atau takut) dan Ar-Raghbah (harap atau ingin) dalam berbagai bentuknya masing-masing 8 kali.
9. Al-kufr (kekufuran dalam bentuk difinite) dan Al-iman masing-masing 17 kali.
10. Kufr dalam bentuk indifinite dan iman masing-masing 8 kali.
11. Ash-shaif (musim panas) dan Asy-syita (musim dingin) masing-masing 1 kali.
b. Keseimbangan Jumlah Kata-Kata Sinonim atau Makna yang Dikandungnya
1. Al-harts (membajak sawah) dan Az-zira’ah (bertani) masing-masing 14 kali.
2. Al-‘ujub (membanggakan diri atau angkuh) dan Al-ghurur (angkuh) masing-masing 27 kali.
3. Adh-dhallun (orang sesat) dan Al-mauta (mati jiwanya) masing-masing 17 kali.
4. Al-qur’an, Al-wahyu, dan Al-Islam masing-masing 70 kali.
5. Al-aql (akal), dan An-nur (cahaya) masing-masing 49 kali.
6. Al-jahr (nyata) dan Al-Alaniyah (nyata) masing-masing 16 kali.
c. Keseimbangan Jumlah Kata yang Menunjuk Kepada Akibatnya
1. Al-infaq (menafkahkan) dan Ar-Ridha’ (kerelaan) masing-masing 73 kali.
2. Al-bukhl (kekikiran) dan Al-hasrah (penyesalan) masing-masing 12 kali.
3. Al-kafirun (orang-orang kafir) dan An-nar (neraka/pembakaran) masing-masing 154 kali.
4. Az-zakah (penyucian) dan Al-Barakat (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali.
5. Al-fashiyah (kekejian) dan Al-ghadhab (murka) masing-masing 26 kali.
d. Keseimbangan Jumlah Kata yang Menjadi Penyebabnya
1. Al-israf (pemborosan) dan As-sur’at (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali.
2. Al-mau’izhah (nasihat/petuah) dan Al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali.
3. Al-asra’ (tawanan) dan Al-harb (perang) masing-masing 6 kali.
4. As-salam (kedamaian) dan Ath-thoyyibat (kebajikan) masing-masing 60 kali.
e. Keseimbangan Khusus
1. Kata yaum (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada jamak (ayyam) dan dua (yaumain), jumlah keseluruhannya hanya 30, sejumlah hari-hari dalam sebulan. Di sisi lain kata yang berarti ‘bulan’ (syahr/asyhur) hanya terdapat 12 kali, sejumlah bulan dalam setahun.
2. Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada ‘tujuh’ dan penjelasan ini diulanginya sebanyak ‘tujuh kali’ pula, yaitu pada S. Al-Baqarah (2):29, Al-Israa’ (17):44, Al-Mu’minuun (23):86, Fushshilat (41):12, Ath-Thalaaq (65):12, Al-Mulk (67):3, dan Nuh (71):15.
3. Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nadzir (pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali, dan jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi dan rasul, serta pembawa berita tersebut, yakni 518 juga.
Dari pemaparan-pemaparan diatas, apakah kita masih tidak percaya bahwa Al-Qur’an memang firman Tuhan ? Rasanya orang jenius bagaimanapun tidak akan mungkin dapat membuat ayat-ayat yang bunyinya seperti ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Saking tidak mungkinnya manusia dan makhluk lainnya dapat membuat ayat yang seperti ayat-ayat Al-Qur’an, Allah pun sempat menyindir :
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
[2:23] Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah31 satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
audio[2:24] Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya) -, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُواْ أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُواْ مَنْ أَضَلَّ اللّهُ وَمَن يُضْلِلِ اللّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً
[4:88] Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan328 dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah329 ? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar